MYANMAR PUNYA
Negara Myanmar dulu dikenal sebagai Birma atau
Burma. Namun, pada masa pemerintahan junta militer yakni yang dipimpin oleh
Jenderal Ne Win, secara resmi menukar nama negara dari Burma menjadi Myanmar
pada tanggal 18 Juni 1989, dan ibukotanya dari Rangoon menjadi Yangon. Junta
militer mengubah nama Burma menjadi Myanmar agar etnis non-Burma merasa menjadi
bagian dari negara. Pada tanggal 7 November 2005, pemerintah membangun ibukota
baru yang bernama Naypyidaw, dan memindahkan ibukotanya dari Yangon ke
Naypyidaw. Mereka juga mengubah lagu kebangsaan dan
bendera pada tanggal 21 Oktober 2010. Negara ini secara geografis terletak di
ekor anak benua India, di sebelah barat berbatasan dengan laut Andaman, di
sebelah utara berbatasan dengan India, di sebelah timur berbatasan dengan
China, dan disebelah selatan berbatasan dengan Thailand.
Luas seluruh
wilayahnya adalah 678.000 km2, dengan jumlah penduduk 45 juta jiwa.
Mayoritas penduduk Myanmar berbangsa Burma dan beragama Buddha. Disamping itu,
terdapat juga etnis minoritas seperti Karen, Chin, Kachin, Shan, dan Rohingya.
Secara fisiografis,
Myanmar terdiri atas rangkaian pegunungan Himalaya, di antaranya terletak memanjang
sungai Irawadi, Sitting, dan Salween. Myanmar beriklim tropis, sehingga
memiliki dua musim; musim kemarau dan musim hujan.
Penduduk Myanmar
terdiri dari 75% etnis Burma, yang tinggal di lembah Delta sungai Irawadi, 9%
etnis Karen, dan 7% etnis Shan. Dibagian barat tinggal beberapa kelompok etnis Chinese
yang merupakan pendatang terbesar. Bahasa resmi negara ini adalah bahasa Burma.
Kota besarnya adalah Rangoon (3,2 juta jiwa), Mandalay (500.000 jiwa), Moulmein
(100.000 jiwa). Di bidang pendidikan, pemerintah Myanmar
memberikan pendidikan dasar secara gratis dan memiliki dua universitas besar,
yaitu Universitas Rangoon dan Universitas Mandalay.
B. Masuk
dan Berkembangnya Islam di Myanmar
Setelah Islam tersebar
di sekitar pantai benua kecil India sekitar abad ke-7 M, pedagang Islam mulai
menyebarkan agama itu ke Burma (Myanmar). Mayoritas mereka berasal dari etnis
Arab, Persia, dan India. Pelaut-pelaut Islam ini untuk pertama kalinya sampai
di Burma (Myanmar) kira-kira abad ke-9 M. Tumpuan mereka adalah berdagang di
sekitar pantai Arakan dan hilir Burma (Myanmar).
Dalam tulisan-tulisan
pelaut (pengembara) Arab dan Persia pada masa itu terdapat catatan tentang
Burma (Myanmar). Ibn Khordadhbeh, Ibn al-Faqih, dan al-Maqdis yang melintasi
kawasan ini pada abad ke-9 dan 10 M telah mencatatkan aktivitas
pedagang-pedagang Islam di Burma (Myanmar) ketika itu. Diantara mereka ada yang
singgah karena untuk berdagang dan ada pula karena menanti angin sebelum
meneruskan pelayaran mereka ke timur atau kembali ke India atau tanah Arab. Ada
juga diantara mereka yang akhirnya menetap karena kapal yang mereka tumpangi
rusak atau tenggelam. Mereka yang agak lama tinggal di Burma (Myanmar) ini
akhirnya menikah dengan penduduk setempat yang beragama Buddha, sehingga terbentuk
komunitas-komunitas Islam di pelabuhan-pelabuhan negara tersebut. Orang-orang
keturunan Islam ini dikenal sebgai Pathee atau Kala. Perkawinan campuran ini
telah menyebabkan tersebarnya agama Islam di sekitar kota-kota pelabuhan di
Burma (Myanmar) terutama setelah abad ke-10 M.
Generasi awal Muslim
yang datang ke delta Sungai Ayeyarwady Burma, yang terletak di pantai
Tanintharyi dan di Rakhine bermula pada abad ke 9. Keberadaan orang-orang Islam
dan da'wah Islam pertama ini didokumentasikan oleh para petualang Arab, Persia,
Eropa, dan Cina abad ke 9. Orang-orang Islam Burma merupakan keturunan dari
orang-orang Islam yang menetap dan kemudian menikahi orang-orang dari etnis
Burma setempat. Orang-orang Islam yang tiba di Burma umumnya sebagai pedagang yang
kemudian menetap, anggota militer, tawanan perang, pengungsi, dan korban
perbudakan. Bagaimanapun juga, ada diantara mereka yang mendapat posisi
terhormat sebagai penasehat raja, pegawai kerajaan, penguasa pelabuhan, kepala
daerah, dan ahli pengobatan tradisional.
Muslim Persia tiba di
utara Burma yang berbatasan dengan wilayah Cina Yunnan pada tahun 860.
Orang-orang Islam Burma kadang-kadang di sebut Pathi, sebuah nama yang
dipercayai berasal dari Persia. Banyak perkampungan di utara Burma dekat dengan
Thailand tercatat sebagai penduduk Muslim, dengan jumlah orang-orang Islam yang
sering melebihi penduduk lokal Burma.
Myanmar, sebagaimana
negara-negara tetangganya, memiliki persoalan yang sama mengenai keragaman
etnisitas dan religiusitas di wilayahnya. Sebagaimana Thailand dan Filiphina,
kaum minoritas menjadi bagian yang terpinggirkan oleh kebijakan negara yang
lebih berpihak kepada kelompok etnis dan keagamaan mayoritas. Tak terkecuali
nasib umat Islam di tengah mayoritas umat Buddha.
Agama Islam yang
pertama kali hadir di Myanmar pada tahun 1055, sehingga kini masih menjadi kaum
pinggiran. Hasil jerih payah para saudagar Arab yang beragama Islam yang
mendarat di delta sungai Ayeyarwady, semenanjung Tanintharyi, dan daerah Rakhin
dengan upaya dakwa mereka, kini baru menuai hasil sebagai etnisitas yang
keberadaannya tetap dicurigai dan bahkan sebagian diintimidasi karena dianggap
berpotensi sebagai kekuatan yang membahayakan junta militer Myanmar dan
mengancam eksistensi kaum mayoritas Buddha di wilayah itu.
Populasi umat Islam
yang ada di Myanmar saat ini terdiri dari keturunan Arab, Persia, Turki, Moor,
Pakistan dan Melayu. Selain itu, beberapa warga Myanmar juga menganut agama
Islam seperti dari etnis Rakhin dan Shan. Populasi Islam di Myanmar sempat
meningkat pada masa penjajahan Britania Raya, dikarenakan banyaknya umat Muslim
India yang bermigrasi ke Myanmar. Tetapi, populasi umat Islam semakin menurun
ketika perjanjian India-Myanmar ditandatangani pada tahun 1941.
Sebagian besar Muslim
di Myanmar bekerja sebagai penjelajah, pelaut, saudagar dan tentara. Umat
Muslim asli Myanmar disebut Pathi dan Muslim China disebut Panthay. Konon, nama
Panthay berasal dari kata Parsi. Kemudian, komunitas
Muslim bertambah di daerah Pegu, Tenasserim, dan Pathein.
Salah satu kelompok etnis yang beragama Islam
negara bagian Arakan adalah Rohingya. Sebuah kelompok etnis-Muslim yang oleh
junta militer Myanmar tidak diakui sebagai bagian dari komunitas etnis yang sah
di wilayah itu. Sehingga mereka terusir di beberapa Negara sebagai kelompok
pengungsi dan manusia-perahu. Mereka antara lain tersebar menjadi pendatang
liar di Thailand, Myanmar, Srilangka bahkan ada sebagian dari kelompok mereka
yang terdampar di Aceh (Indonesia) sebagai kelompok manusia-perahu.
Arakan sendiri merupakan sebuah negara bagian
seluas 14.200 mil persegi yang terletak di barat Myanmar. Merupakan daerah
pesisir timur teluk Bengali yang bergunung-gunung. Berbatasan langsung dengan
India di utara, berbatasan dengan negara bagian Chin di timur laut, berbatasan
dengan Magwe dan Pegu di timur, berbatasan dengan Irawadi di selatan dan
Bangladesh di barat laut. Saati ini dihuni oleh sekitar 5 juta penduduk yang
terdiri dari dua etnis utama, Rohingya yang yang beragama Islam dan
Rakhine/Maghs yang beragama Buddha.
Kata Rohingya berasal dari kata Rohang, yang
merupakan nama lama dari negara bagian Arakan. Etnih Rohingya sudah tinggal di
Arakan sejak abad ke-7 M. Hal ini merupakan bantahan bagi junta militer yang
menyatakan bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang yang ditempatkan oleh
penjajah Inggris dari Bangladesh. Memang secara fisik
etnis Rohingya memiliki kesamaan fisik dengan orang Bangladesh. Merupakan
keturunan dari campuran orang Bengali, Persia, Mongol, Turki, Melayu dan Arab
menyebabkan kebudayaan Rohingya sedikit berbeda dari kebanyakan orang Myanmar.
Termasuk dari segi bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Parsi, Urdu
dan Bengali.
Arakan dulunya
merupakan sebuah negara independen yang pernah dikuasai secara bergantian oleh
orang Hindu, Buddha dan Muslim. Pada 1203 M Bengal menjadi sebuah negara Islam,
dan sejak saat itu pula pengaruh Islam mulai merambah masuk ke wilayah Arakan.
Hingga pada akhirnya pada tahun 1430 M, Arakan menjadi sebuah negara Muslim.
Selama 350 tahun kerajaan Muslim berdiri di Arakan dan umat islam hidup dengan
tenang.
Penduduk Muslim
Rohingya merupakan mayoritas penduduk Arakan, dengan jumlah ±90%. Namun selama
45 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar) jumlah itu terus berusaha dikurangi, mulai
dari pengusiran hingga pembunuhan, hingga saat ini hanya tersisa sedikit umat
Islam Rohingya di selatan Arakan sedangkan di bagian utara Rohingya masih
menjadi mayoritas.
Berbeda dengan etnis
lain yang berhak mendirikan negara bagian sendiri, etnis Rohingya kehilangan
haknya, bahkan wilayahnya (Arakan) diserahkan kepada etnis Rakhin yang beragama
Buddha, walaupun populasinya kurang dari 10% penduduk Arakan. Sejak saat itulah
hak-hak etnis Rohingya bersaha dihilangkan oleh politisi Buddha Burma.
C.
Pembagian
Administratif
Secara administratif, Myanmar dibagi menjadi
tujuh negara bagian (pyine) dan tujuh divisi (yin), diantaranya:
|
Negara Bagian di
Myanmar
|
Divisi-divisi di
Myanmar
|
|
1. Negara bagian Chin
|
1)
Divisi Irawadi
|
|
2.
Negara Bagian Kachin
|
2)
Divisi Bago
|
|
3.
Negara Bagian Kayin
(Karen)
|
3)
Divisi Magway
|
|
4.
Negara Bagian Kayah
(Karenni)
|
4)
Divisi Mandalay
|
|
5.
Negara Bagian Mon
|
5)
Divisi Sagaing
|
|
6.
Negara Bagian
Rakhine (Arakan)
|
6)
Divisi Tanintharyi
|
|
7.
Negara Bagian Shan
|
7)
Divisi Yangon
|
D.
Kelompok-kelompok
Etnis di Myanmar
Secara garis besar, kelompok etnis di Myanmar
dapat dikelompokkan dalam delapan kelompok etnis:
1.
Etnis Bamar/Burma. Dua
pertiga dari total warga Myanmar. Beragama Buddha, menghuni sebagian wilayah
negara kecuali pedesaan.
2.
Etnis Karen. Suku yang beragama Buddha,
Kristen atau paduannya. Menghuni pegunungan dekat perbatasan dengan Thailand.
3.
Etnis Shan (Siam dalam bahasa Thai).
Etnis yang beragama Buddha yang berkerabat dengan etnis Thai. Pada umumnya
menghuni di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.
4.
Etnis Arakan. Juga disebut Rakhine,
umumnya beragama Buddha dan tinggal di perbukitan di Myanmar barat.
5.
Etnis Mon. Etnis yang
beragama Buddha yang menghuni kawasan selatan dekat perbatasan Thailand.
6.
Etnis Kachin. Kebanyakan beragama
Kristen. Mereka juga tersebar di China dan India.
7.
Etnis Chin. Kebanyakan beragama Kristen,
menghuni dekat perbatasan India.
8.
Etnis Rohingya. Etnis Muslim yang
tinggal di utara Rakhine (Arakan), banyak yang telah mengungsi ke Bangladesh
atau Thailand.
SEJARAH ISLAM
DI BURMA
SEJARAH ISLAM DI BURMA(MYANMAR)
SEJARAH KEDATANGAN
ISLAM DI MYANMAR(BURMA)Generasi Muslim Pertama di Burma
Generasi awal Muslim yang datang ke delta Sungai Ayeyarwady Burma, yang terletak di pantai Tanintharyi dan di Rakhine bermula pada abad ke 9, sebelum pendirian imperium pertama Burma pada tahun 1055 AD oleh Raja Anawrahta dari Bagan. Keberadaan orang-orang Islam dan da’wah Islam pertama ini didokumentasikan oleh para petualang Arab, Persia, Eropa, dan Cina abad ke 9. Orang-orang Islam Burma merupakan keturunan dari orang-orang Islam yang menetap dan kemudian menikahi orang-orang dari etnis Burma setempat. Orang-orang Islam yang tiba di Burma umumnya sebagai pedagang yang kemudian menetap, anggota militer, tawanan perang, pengungsi, dan korban perbudakan. Bagaimanapun juga , ada diantara mereka yang mendapat posisi terhormat sebagai penasehat raja, pegawai kerajaan, penguasa pelabuhan, kepala daerah, dan ahli pengobatan tradisional.
Muslim Persia tiba di utara Burma yang berbatasan dengan wilayah Cina Yunnan sebagaimana tercatat pada Chronicles of China pada tahun 860 AD. Orang-orang Islam Burma kadang-kadang di sebut Pathi, sebuah nama yang dipercayai berasal dari Persia. Banyak perkampungan di utara Burma dekat dengan Thailand tercatat sebagai penduduk Muslim, dengan jumlah orang-orang Islam yang sering melebihi penduduk lokal Burma. Dalam sebuah catatan, Pathein dikatakan mendiami Pathis, dan pernah dipimpin oleh Raja India Muslim pada abad ke 13. Para pedagang Arab juga tiba di Martaban, Margue, dan ada pula perkampungan Arab di kepulauan Meik.
Selama pemerintahan Raja Bagan Narathihapate (1255-1286), pada masa perang pertama orang Cina dan Burma, Muslim Tartar Kublai Khan menyerang Kerajaan Kafir dan menduduki wilayah hingga ke Nga Saung Chan. Pada tahun 1283, Kolonel Nasruddin dari Turki menduduki wilayah hingga ke Barnaw (Kaungsin). Orang Turki (Tarek) disebut Mongol, Manchuria, Mahamaden atau Panthays.
Pelaut dan Pedagang Muslim
Bermula dari abad ke 7, para pedagang Arab datang dari Madagaskar melakukan perjalanan ke Cina melalui kepulauan India Timur, berhenti di Thaton dan Martaban. Orang laut Bago, mungkin menjadi Muslim, juga tercatat oleh para sejarawan Arab abad ke 10. Mengikuti perjalanan ini, pelaut dan tentara Muslim Burma dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Melaka selama pemerintahan Sultan Parameswara pada abad ke 15. Dari abad ke 15 hingga 17, ada beberapa catatan dari para pelaut, pedagang, dan penduduk Muslim Burma tentang seluruh pesisir Burma : pantai Arakan, (Rakhine), delta Ayeyarwady dan pantai dan kepulauan Tanintharyi. Pada abad ke 17, Muslim menguasai perdagangan dan menjadi kuat. Mereka diangkat menjadi Gubernur Mergui, Raja Muda Propinsi Tenasserim, Penguasa Pelabuhan, Gubernur Pelabuhan dan Shahbandar (para pegawai pelabuhan senior)
Para Tawanan Perang Muslim
Burma memiliki sejarah panjang tentang pendudukan oleh para tawanan perang Muslim. Pada tahun 1613, Raja Anaukpetlun menangkap Thanlyin atau Syriam. Para prajurit upahan Muslim India di tangkap dan kemudian menetap di Myedu, Sagaing, Yamethin dan Kyaukse, wilayah utara Shwebo. Raja Sane (Say Nay Min Gyi) membawa beberapa ribu tawanan perang Muslim dari Sandoway dan menetap di Myedu pada tahun 1707 AD. Tiga ribuan Muslim dari Arakan menjadi pengungsi dibawah Raja Sane pada tahun 1698-1714. Mereka terbagi dan bertempat tinggal di Taungoo, Yamethin, Nyaung Yan, Yin Taw, Meiktila, Pin Tale, Tabet Swe, Bawdi, Syi Tha, Syi Puttra, Myae Du dan Depayin. Dekrit Raja ini telah disalin dari Perpustakaan kerajaan di Amarapura pada tahun 1801 oleh Kyauk Ta Lone Bo. Pada pertengahan abad 18, Raja Alaungpaya menyerang Assam dan Manipur India, kemudian membawa banyak orang Islam untuk menetap di Burma. Orang-orang Islam inilah yang kemudian berasimilasi untuk membentuk cikal bakal Muslim Burma. Selama kekuasaan raja Bagyidaw (1819-1837), Maha Bandula menyerang Assam dan membawa kembali 40.000 tawanan perang, kebanyakan dari mereka adalah kaum Muslimin.
Keadaan umat islam di Myanmar
Penduduk Islam di Myanmar merupakan kumpulan minoritas Muslim yang terbesar di Asia Tenggara. Mereka adalah penduduk yang memiliki nasib sama dengan penduduk Muslim di Thailand dan Filipina. Pemerintah Myanmar memperlakukan Muslim secara kejam, Muslim diusir dari negerinya, harta dirampas dan pemerintah juga menafikan hak kewarganegaraan mereka.
a. Proses Islamisasi
Islam masuk ke Myanmar khususnya wilayah Arakan adalah pada abad ke-1 H/7 M yang dibawa oleh para pedagang Arab yang datang ke Akyab, ibu kota Arakan. Namun Muslim di Arakan dalam proses islamisasi memakan waktu yang lama untuk mewujudkan suatu kekuasaan, mereka baru dapat mendirikan Negara Islam Arakan pada abad ke-8 H/14 M. Proses penyebaran Muslim dari pantai Arakan kemudian lanjut ke selatan dan masuknya Islam ke Myanmar tidak hanya dibawa oleh para pedagang Arab, Muslim Malaysia dan India juga mempunyai peranan yang penting dalam penyebaran Muslim di Myanmar.
Muslim Burma terdiri dari dua kelompok etnik, yaitu yang berasal dari Indo Pakistan mereka hidup terutama di kota-kota besar mempunyai hubungan yang kuat dengan anak benua India dan yang lainnya berasal dari orang Burma (penduduk asli). Kemudian hukum keluarga Muslim berlaku dan sekitar 5.000 Muslim pergi melaksanakan ibadah haji setiap tahunnya. Di kota-kota besar, ada beberapa mesjid dan al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Burma oleh suatu tim Muslim yang benar-benar menguasai materi tentang itu.
Kekuasaan Islam di Arakan berjalan lebih kurang selama 350 tahun dengan 48 orang sultan yang memerintah silih berganti, sehingga dijajah oleh Burma pada tahun 1784 dan penjajahan ini berlanjut dengan diambil alih oleh British pada tahun 1822. Pada tahun 1880-an orang-orang Islam di India berbondong-bondong hijrah ke Myanmar, sehingga jumlah Muslim semakin meningkat di Myanmar.
Pada tahun 1948 British memberikan kemerdekaan kepada Myanmar, dengan demikian Arakan daerah kekuasaan Islam menjadi daerah kekuasaan Myanmar. Hal ini membuat Muslim tidak senang, karena mereka diperlakukan secara kejam oleh pemerintah bahkan kewarganegaraan mereka dinafikan. Kondisi ini telah membuat Muslim menuntut agar mereka diberi otonomi untuk menjalankan pemerintahan sendiri.
b. Muslim Setelah Kemerdekaan Myanmar
Setelah Myanmar merdeka dari British pada tahun 1948, pemerintah Myanmar senantiasa waspada terhadap kedudukan Muslim yang penting di ibu kota Negara. Kemudian Muslim juga banyak yang mempunyai jabatan penting di pemerintahan disamping keterlibatan mereka dalam urusan perniagaan yang membuat Muslim memperoleh kemewahan dari hasil perdagangan. Hal ini telah melahirkan sentimen bagi pemerintah Myanmar dan akhirnya terjadilah kontroversi antara Muslim dengan orang Myanmar yang berakibat banyaknya nyawa orang-orang Islam yang menjadi korban.
Rasa sentimen yang begitu mendalam juga menyebabkan munculnya tindakan keganasan dari pemerintah Myanmar terhadap orang Muslim tanpa perikemanusiaan. Tahun 1930-an merupakan permulaan era kemelaratan dan penindasan bagi orang-orang Islam di Myanmar. Beberapa serangan kejam telah dilakukan terhadap Muslim pada tahun 1931 sampai 1938 dan serangan yang paling ganas serta kejam telah terjadi di Yangon dan Mandanay. Di perkirakan dalam peristiwa tersebut sebanyak 200 orang Muslim terbunuh akibat keganasan tentara Myanmar.
Tanah-tanah Muslim dirampas, pemerintah dengan masyarakat Buddha juga menindas masyarakat Islam dengan memeras uang dan memaksa mereka memberi opeti serta memenjarakan mereka dengan sewenang-wenang. Sebagian umat Islam di usir dan tidak boleh kembali kekampung halamannya. Menjelang tahun 1971 dan tahun-tahun berikutnya, kekejaman yang dilakukan oleh pemerintah Myanmar terhadap Muslim terus meningkat tajam. Pada tahun 1977 pemerintah Myanmar melancarkan Operasi Raja Min yang juga dikenal dengan Operasi Naga Min, yaitu operasi benci untuk memeriksa semua penduduk dan mengklasifikasikan mereka kepada dua kategori, yaitu penduduk Burma dan rakyat asing.
Orang-orang Buddha mulai di tempatkan di daerah-daerah Muslim dan mesjid-mesjid dibakar, gedung-gedung perniagaan milik orang-orang Islam di kota Akyab juga dibakar. Orang-orang Islam diejek, dipukul dan dibunuh sewenang-wenang, wanita-wanita diperkosa serta sebagian besar dipaksa menikah dengan tentara Myanmar yang beragama Buddha. Kondisi yang lebih parah lagi pada tahun 1964 orang Muslim tidak dibenarkan lagi melaksanakan ibadah haji, walaupun pada tahun 1980 kebijakan itu dicabut tetapi perbelanjaannya sangat mahal dan terpaksa melalui berbagai prosedur yang sangat rumit.
c. Perlawanan Muslim
Perlakuan pemerintah Myanmar yang tidak baik terhadap Muslim telah membangkitkan semangat Muslim untuk melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap pemerintah Myanmar. Apalagi keinginan otonomi tidak mendapat sahutan dari pemerintah yang sangat kejam, semakin membuat Muslim sadar karena mereka sudah diotak atik oleh pemerintah sesuai seleranya. Puncak perlawanan Muslim terjadi pada tahun 1948 berlanjut sampai tahun 1954 yang dikenal dengan Pemberontakan Mujahid yang dipimpin oleh Kasim. Namun Kasim akhirnya tertangkap, tetapi perjuangan umat Islam terus berjalan sampai tahun 1961 dalam memperjuangkan kemerdekaan dari pemerintah.
Perjuangan yang pada mulanya sempat memudar akhirnya pada dekade 1970-an dan 1980-an kembali aktif. Semenjak itu, perlawanan umat Islam tidak henti-hentinya terhadap pemerintah yang selalu bertindak zalim terhadap umat Islam. Kemudian semenjak tahun 1980, Muslim dari daerah lain dipaksa keluar dari Myanmar dengan penganiayaan yang tidak kalah pelaknya dan ribuan Muslim lari ke Thailand dan Malaysia.
d. Kondisi Sosial dan Pendidikan Muslim Myanmar
Kondisi Muslim di Myanmar saat ini, menurut muslim mereka sangat teraniaya dengan perlakuan pemerintah yang sangat kejam, dan mereka merasa tidak mendapatkan tempat yang sama dalam urusan pekerjaan. Adapun dalam bidang pendidikan, mereka kalau sekolah di sekolah umum tidak akan mendapatkan pelajaran agama, sedangkan kalau sekolah di sekolah agama (Islam) mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk bekerja di pemerintahan sebagaimana alumni pelajar umum lainnya. Namun hal yang tidak dilihat oleh muslim adalah bagaimana sebenarnya pemerintah telah berusaha memfasilitasi muslim dengan baik, baik dalam masalah pendidikan maupun dalam masalah perlakuan pemerintah.
Fasilitas pendidikan yang didapat oleh muslim adalah pemerintah mendirikan sekolah dan membantu untuk pembangunan mesjid. Semua ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya pemerintah sangat memperhatikan masalah pendidikan warga tanpa membedakan antara pemeluk agama yang satu dengan lainnya. Kemudian muslim beranggapan bahwa pemindahan penduduk yang beragama Buddha ke daerah muslim dianggap sebagai program pemoritasan pemerintah terhadap muslim. Padahal secara kajian statistik program yang dijalankan oleh pemerintah adalah dalam rangka pemerataan penduduk dan menghindari kebanyakan/ledakan penduduk pada suatu wilayah tertentu.
kelompok Islam peduli terhadap nasib Rohingya(myanmar)
Chiang Mai (Mizzima) – organisasi Muslim dari ASEAN telah mendesak pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah Rohingya di Burma dan konflik di Thailand selatan dan Filipina sans operasi militer.
Sarawut Sriwanyot, Ketua Dewan Organisasi Muslim Thailand mengatakan hari Sabtu bahwa pertemuan bekerjasama dengan Komite Nusantara untuk Keadilan dan Perdamaian, Penang dan LSM berbasis di Jakarta dan 45 organisasi sipil dari Malaysia, Indonesia, Burma, Filipina dan Thailand fokus pada tiga masalah konflik terhadap etnis minoritas, termasuk di negara Rohingya Arakan, Burma.
“Kami prihatin tentang nasib orang Rohingya di Burma, yang menolak kewarganegaraan oleh pemerintah Burma. Mereka menghadapi pelanggaran hak asasi manusia seperti etnis minoritas lain, yang telah meninggalkan negeri karena kurangnya kesempatan kerja. Kemudian mereka pergi dengan kapal untuk negara-negara lain ASEAN, khususnya Indonesia dan Malaysia, “katanya.
Dia mengatakan pertemuan itu sepakat “untuk memanggil Rohingya hak-hak sebagai warga negara Burma Mereka harus memiliki hak untuk berpartisipasi dalam pembangunan demokrasi di negara dengan cara yang sama dengan mayoritas umat Buddha dan kelompok etnis lainnya.. Kami berharap bahwa ASEAN akan mengusulkan ini ke rezim Burma, “menurut sebuah laporan di situs web berita Thailand Prachatai pada hari Senin.
Pertemuan dua hari berjudul “Peoples Call untuk Keadilan dan Perdamaian”, yang diselenggarakan oleh Dewan Organisasi Muslim Thailand dan Inisiatif Nusantara untuk Keadilan dan Perdamaian (Nadi), Penang dan LSM berbasis di Jakarta di Pusat Islam, Bangkok, fokus pada kampanye militer, dampaknya, dan situasi manusia dari Rohingyas hak di Arakan, Burma, Muslim di Yala, Narathiwat, Patani dan Satun, Thailand Selatan dan The Bangsamoro di Mindanao, Filipina.
Itu akan diserahkan kepada pemerintah Thailand dan negara-negara anggota ASEAN lainnya, mendesak mereka untuk menghindari opsi militer untuk penyelesaian konflik mendukung strategi damai dan holistik untuk penyelesaian sengketa, sosial-ekonomi pembangunan dan pemberdayaan politik.
para pemimpin ASEAN akan berpartisipasi dalam KTT ASEAN berikutnya di 15 provinsi Prachaub Petchburi Kirikhan dan Thailand, dari 21 -25 Oktober 2009, di tengah-tengah keamanan yang ketat oleh pemerintah Thailand. There is apprehension that anti-government groups would disrupt the meeting as had happened in April. Ada kekhawatiran bahwa kelompok-kelompok anti-pemerintah akan mengganggu pertemuan seperti yang terjadi pada bulan April.
Tuntutan lain termasuk: promosi keterlibatan dan konsultasi antara Amerika dan orang-orang mereka, kebutuhan untuk hidup sampai tanggung jawab bersama untuk resolusi konflik dan perselisihan dan menghindari opsi militer dalam menyelesaikan masalah, menurut pernyataan yang dikeluarkan hari Sabtu.
Mereka juga meminta resolusi segera penderitaan dari Rohingyas, kerusuhan Thailand Selatan dan perjuangan Bangsamoro di Filipina melalui konsultasi bersama dan upaya kolektif antara semua pemerintah ASEAN berdasarkan keadilan dan hak-hak sah rakyat.
Tentang pengungsi dan pekerja migran yang mereka sebut pada pemerintah untuk meratifikasi Konvensi 1951 Berkaitan dengan Status Pengungsi, Protokol 1967 perusahaan, 1954 Konvensi Mengenai Status Orang Tanpa negara, Konvensi 1961 tentang Pengurangan Kewarganegaraan dan Konvensi Internasional tahun 1990 Perlindungan Hak Semua Buruh Migran dan Anggota Keluarganya.
Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Burma
Muslim pertama yang tercatat dalam sejarah Burma (dicatat dalam Hmannan Yazawin atau Glass Palace Chronicle ) adalah Byat Wi selama pemerintahan Mon, seorang Raja Thaton, sekitar tahun 1050 AD. [1] Dia dibunuh bukan karena dia seorang Muslim, tetapi karena raja mengkhawatirkan kekuatannya.
Shwe Byin saudara dieksekusi
Kedua anak kakak Wi Byat Byat Ta, yang dikenal sebagai saudara Byin Shwe, adalah anak-anak dihukum mati karena mereka menolak untuk mematuhi perintah kerja paksa raja, mungkin karena kepercayaan agama mereka. [2] [3]
Tetapi yakin bahwa mereka membunuh bukan karena mereka Muslim atau karena mereka gagal untuk memberikan kontribusi terhadap pembangunan pagoda tetapi karena raja atau orang berjalan di koridor kekuasaan di istana khawatir tentang popularitas dan keterampilan. Ini jelas tercatat dalam Istana Kaca Chronicle dari Raja-raja Burma bahwa mereka tidak lagi dipercaya.
Pembunuhan Yaman Kan Nga
Rahman Khan (Nga Yaman Kan) adalah muslim lain dibunuh karena alasan politik, karena pengkhianatan kepada raja sendiri dan jelas bukan sebagai penganiayaan agama. Selama waktu perang, pahlawan nasional terkenal Raja Kyansittha dikirim pemburu sebagai penembak jitu untuk membunuh dia. [5] [6]
Pembantaian di Arakan
Lain pembunuhan massal Muslim di Arakan mungkin bukan karena alasan religius, tapi mungkin karena hanya politik dan keserakahan. Shah Shuja adalah putra kedua dari Kaisar Mogul Shah Jahan yang membangun Taj Mahal yang terkenal dari India. Shah Shuja kehilangan kepada saudaranya dan melarikan diri dengan keluarganya dan tentara ke Arakan. Raja Arakan Sandathudama (1652-1687 M), memungkinkan dia untuk menetap di sana. Dia ingin membeli kapal untuk pergi ke Mekah dan bersedia membayar dengan perak dan emas. Tetapi raja Arakan meminta putrinya dan juga menjadi serakah karena kekayaannyaAkhirnya setelah upaya gagal diduga pada pemberontakan sultan dan semua pengikutnya tewas. Orang-orang terlihat memiliki jenggot, simbol Islam, dipenggal kepalanya, bukan karena mereka Muslim, tetapi karena mereka dengan mudah diidentifikasi dari orang lain dengan fitur ini. Wanita itu dimasukkan ke dalam penjara dan membiarkan mereka mati karena kelaparan. Oleh karena itu, pembantaian ditargetkan pada pengungsi muslim dari India bukan karena agama mereka, Islam, tetapi untuk alasan ekonomi atau politik.
Muslim di bawah Bayintnaung
Muslim bertugas di bawah raja Burma Bayintnaung (1550-1589 M).]Pada tahun 1559 Masehi setelah menaklukkan Baru (Pegu) ia melarang umat Islam dari memiliki halal makan kambing dan ayam dengan tidak memungkinkan mereka untuk membunuh hewan-hewan ini dalam nama Allah .Dia menunjukkan beberapa intoleransi agama dan telah memaksa beberapa rakyatnya untuk mendengarkan khotbah Buddha dan beberapa bahkan kata yang akan dikonversi dengan kekerasan.Dia juga batasan tersebut Adha Edil, Kurbani pengorbanan sapi.
Muslim di bawah Alaungpaya
Raja Alaungpaya (1752-1760) muslim dilarang untuk melakukan halal pada ternak.
Bodawpaya
Raja Bodawpaya (1782-1819) menahan empat terkenal Burma Muslim Moulvis (Imam) dari Myedu dan membunuh mereka di Ava, ibu kota, setelah mereka menolak untuk makan daging babi. [16] Menurut Muslim Myedu dan Burma versi Islam ada tujuh gelap hari setelah eksekusi itu dan raja kemudian meminta maaf dan diakui mereka sebagai orang-orang kudus.
Anti-Islam dan anti-India Kerusuhan di bawah pemerintahan Inggris
Inggris Resmi White Paper
Dia adalah hakim di Rangoon, saksi kerusuhan, yang menulis bukunya berdasarkan Inggris Resmi White Paper diberikan oleh Komisi Simon (Royal Resmi Komisi, ditunjuk menurut Hukum Pemerintah India tahun 1919, The Chelmsford Montague-Undang.) [19]
Anti-India dan sentimen anti-Islam mulai selama pemerintahan Inggris
Sentimen anti-India dimulai setelah Perang Dunia Pertama pada masa pemerintahan Inggris. [20] Di Burma ada Muslim setengah juta pada tahun 1921 Lebih dari setengah orang India India Muslim. [21] Meskipun Burma umat Islam berbeda dari umat Islam India dan Burma umat Islam India, Burma Budha menempatkannya bersama, bahkan dengan Hindu India, dan memanggil mereka Kala. [22]
Akar kebencian ini adalah:
Sebelumnya Muslim penganiayaan umat Buddha dan Hindu selama perang penaklukan Mughal, di mana banyak Buddha dan Hindu secara paksa dikonversi.
- Rendahnya standar hidup dari
pendatang baru.
- migran Terkini ‘kesediaan untuk
melakukan, kotor, pekerjaan sulit dan berbahaya.
- India mengambil alih tanah terutama Chittiers Burma.
- India sudah penuh dan memonopoli jasa pemerintah ketika Burma kemudian siap untuk pekerjaan-pekerjaan.
- Profesional kompetisi.
- Dunia resesi ekonomi tahun 1930 memperparah kompetisi untuk kue ekonomi berkurang.
Muslim di bawah U Nu
AFPFL mengusir
Burma Kongres MuslimBMC, Burma Kongres Muslim didirikan hampir bersamaan dengan AFPFL,-Fasis Rakyat Anti Partai Kebebasan Jenderal Aung San dan U Nu sebelum Perang Dunia Kedua . Pada tanggal 25 Desember 1945 di Pyin Mana, U Razak terpilih menjadi Presiden BMC dan memutuskan untuk bergabung AFPFL U Razak terpilih AFPFL Presiden di distrik Mandalay pada tahun 1946. Kemudian Gubernur menerimanya sebagai anggota dewan konstitusional. Dia memiliki hubungan sangat baik dengan Buddha dan bahkan fasih berbahasa Pali (Buddha suci ini ditulis dalam bahasa kuno dari India). Ia menjadi Menteri Pendidikan dan Perencanaan di’s (Bogoke Jenderal Aung San) Pemerintah dan kemudian dibunuh dengan dia. [35] Tapi ia mendukung kebijakan utama AFPFL: yang melawan partisi sepanjang masyarakat atau garis agama.U Razak dan beberapa rekan-nya keberatan terhadap perjuangan mereka menuntut jaminan konstitusional khusus untuk kaum minoritas Muslim Burma. Jadi, meskipun U Razak adalah, sangat populer penting dan pemimpin Muslim terkemuka Burma yang berhasil diselenggarakan Burma umat Islam untuk bisa mendapatkan catatan resmi bahwa mereka telah berpartisipasi sejak awal perjuangan menuju kemerdekaan Burma Nasional.
dia berdiri dari bersatu Burma (Myanmar) bangsa mengorbankan kepentingan jangka panjang untuk menjamin hak-hak minoritas muslim Burma puas bukan hanya para pemimpin Buddha Burma dari AFPFL, tapi anehnya juga Pemerintah Inggris. Mungkin karena itu ia mendapat banyak penghargaan pribadi. U Raschid dan lebih menonjol U Khin Maung Lat, berikut kebijakan umum mengorbankan Hak dan Kepentingan Masyarakat Muslim Burma untuk ‘negara dan partai mereka Tidak heran sebagian besar Muslim Burma kemudian menolak untuk menganggap atau mengakui ini ‘tertarik’ politisi kawakan diri sebagai wakil sejati atau penyelamat Menteri. Perdana U Nu, hanya beberapa bulan setelah kemerdekaan Burma, Burma Muslim meminta Kongres untuk mengundurkan diri yang keanggotaan dari AFPFL. Menanggapi bahwa U Khin Maung Lat, Presiden baru BMC, memutuskan untuk menghentikan kegiatan Agama Islam dari BMC dan bergabung dengan AFPFL. Kemudian ia menjadi Menteri Kehakiman tetapi tidak lagi mewakili keinginan masyarakat Muslim Burma. Yang baru terbentuk Burma Liga Muslim meminta departemen pemerintah khusus untuk urusan Muslim untuk menentukan masa depan mereka sendiri, sama seperti untuk minoritas lain, yang telah Ministries Yangon dan pemerintah di negara-negara mereka Nu. U menghilangkan Muslim Burma Kongres dari AFPFL pada tanggal 30 September 1956. U Nu menetapkan Buddhisme Kemudian sebagai agama negara Burma melawan kehendak minoritas etnis dan berbagai organisasi keagamaan termasuk Burma Muslim Nu. U, seorang penganut Budha yang taat, yang ditekan oleh pedagang Hindi berpengaruh dan kaya yang memerintahkan larangan dari pemotongan ternak. Meskipun ia santai bahwa selama Edd Kurbani (Hariraya Haji), umat Islam harus mengajukan permohonan ijin untuk setiap ternak dan ketat mengikuti prosedur di bawah pengawasan polisi. Meskipun Jenderal Ne Win dicabut urutan pertama dan membiarkan pembantaian sapi untuk konsumsi sehari-hari, urutan kedua dari pembatasan ketat untuk korban tetap sampai dengan saat ini. sebuah masjid resmi Bahkan yang gagal untuk mematuhi jumlah ternak yang diizinkan ditangkap dan dihukum. Beberapa Muslim mengeluh bahwa pemerintah U Nu itu telah membuat kondisi yang lebih sulit dan peraturan untuk ibadah haji dari peziarah Buddha akan Sri Lanka dan Nepal.
http://trinofendri.wordpress.com/2009/12/02/hello-world/
D.
Kelompok-kelompok
Etnis di Myanmar
Secara garis besar, kelompok etnis di Myanmar
dapat dikelompokkan dalam delapan kelompok etnis:
1.
Etnis Bamar/Burma. Dua
pertiga dari total warga Myanmar. Beragama Buddha, menghuni sebagian wilayah
negara kecuali pedesaan.
2.
Etnis Karen. Suku yang beragama Buddha,
Kristen atau paduannya. Menghuni pegunungan dekat perbatasan dengan Thailand.
3.
Etnis Shan (Siam dalam bahasa Thai).
Etnis yang beragama Buddha yang berkerabat dengan etnis Thai. Pada umumnya
menghuni di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar.
4.
Etnis Arakan. Juga disebut Rakhine,
umumnya beragama Buddha dan tinggal di perbukitan di Myanmar barat.
5.
Etnis Mon. Etnis yang
beragama Buddha yang menghuni kawasan selatan dekat perbatasan Thailand.
6.
Etnis Kachin. Kebanyakan beragama
Kristen. Mereka juga tersebar di China dan India.
7.
Etnis Chin. Kebanyakan beragama Kristen,
menghuni dekat perbatasan India.
8.
Etnis Rohingya. Etnis Muslim yang
tinggal di utara Rakhine (Arakan), banyak yang telah mengungsi ke Bangladesh
atau Thailand.
http://ajiraksa.blogspot.com/2012/06/perkembangan-terakhir-islam-di-burma.html


Tidak ada komentar:
Posting Komentar